Green Lake Sunter, Bersaing Ketat Dengan Harga Bersahabat

Dalam fatsoen klasik properti, lokasi adalah hal terpenting dan sangat vital. Jadi, ketika mendapati sebuah advertensi properti yang menawarkan lokasi sebagai ‘jualan’nya, dapat dimafhumi. Namun, apakah lokasi merupakan faktor yang paling menentukan? Lokasi memang erat kaitannya dengan tingkat penjualan. Akan tetapi,  apakah korelasinya selalu positif dengan kesuksesan sebuah proyek? Variabel sukses di sini ditentukan oleh tingkat serapan pasar dan proyek rampung terbangun. Jawaban realistisnya, belum tentu.

Konstatasi bisnis dan industri properti di Indonesia, segalibnya juga di negara manapun di dunia, adalah refleksi pembelajaran yang sangat panjang dan amat mahal. Kurun pra krisis 1997-1998, tak terhitung proyek-proyek yang menegasikan unsur vital lokasi. Para pengembang justru berpacu membangun proyek baru di kawasan yang juga baru dengan skala raksasa. Kota Kekerabatan Maja, Banten,  Permata Sentul dan Bukit Hambalang, (Bogor, Jawa Barat) sekadar menyebut contoh. Dimensi lahannya, luas bukan kepalang. Prestasi penjualannya, mencengangkan. Laris bak gorengan pinggir jalan. Beberapa rumah, sempat terbangun. Namun, dalam perjalanannya kemudian, proyek-proyek itu tak (akan) pernah bisa tuntas.

Apakah faktor lokasi bisa dituding sebagai kambing hitam kegagalan proyek-proyek itu? Kalau kita menggunakan pisau analisa modern, itu jelas bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan sebuah proyek. Apartemen Dukuh Golf di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang notabene di tengah kota dan mudah dijangkau, pun mangkrak. Kalau tidak mau dikatakan tinggal ‘situs’ sejarah.

Trihatma K Haliman (chairman APG), Candra Ciputra (Direktur Ciputra Group), maupun Alexander Tedja (chairperson Pakuwon Group), pernah berujar, lokasi memang sangat penting tapi bukan hal yang paling menentukan. Kontinuitas pengembangan, komitmen, dedikasi serta konstruksi finansial, adalah elemen yang saling memperkuat dan berkontribusi signifikan terhadap kesuksesan sebuah proyek. Betapa Pakuwon Group sempat diterpa kesulitan hingga pengembangan Gandaria City dan Kota Kasablanka  mengalami kevakuman. Namun, karena empat elemen tadi plus kerja keras mereka, kedua proyek tersebut terus dilanjutkan. Bahkan Gandaria City akan segera beroperasi.

Begitupula dengan Grup Agung Podomoro. Bedanya, kelompok usaha ini, tak harus berjibaku dengan konstruksi finansialnya. Karena mereka, dalam sejarahnya, relatif prestatif dalam penjualan. Sehingga konstruksi finansial dengan rumus 40% dari pinjaman bank, 30% ekuitas perusahaan dan 30% penjualan yang lazim diadopsi pengembang, realitasnya bisa terbalik. Pinjaman bank dan atau ekuitas internal, seperti dikatakan Indra W Antono, Direktur Marketing APG, tak pernah digunakan jika tidak mendesak. “Produk kami affordable. Harga kompetitif, lokasi bagus, fasilitas lengkap dan konsep unik. Itu yang membuat konsumen tertarik membeli,” ujar Indra saat soft opening Central Park, Podomoro City beberapa waktu lalu.

Rumus serupa pula yang diterapkan pada produk anyar APG, Green Lake Sunter. Di sini, APG bakal menyulap fasilitas umum (olahraga) perumahan Sunter Podomoro, Sunter, Jakarta Utara yang berukuran 4,5 Ha, menjadi mixed use development. Lokasinya dikelilingi perumahan mewah, seperti Sunter Podomoro, dengan berbagai fasilitas eksisting yang terbilang lengkap. Sebut saja, sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, pusat belanja, hotel, sarana olahraga, dan lain sebagainya. Aksesibilitas menuju proyek ini pun terhitung memadai dan terbuka. Bisa dijangkau dari berbagai arah baik melalui jalur bebas hambatan maupun jalur reguler dengan pilihan moda transportasi yang variatif.

APG merancang Green Lake Sunter dengan klaim pengembangan hijau yang maksimal. Direktur Marketing Green Lake Sunter, Dewi Jono mengatakan, keunikan proyek ini dibanding portofolio lain milik APG adalah komitmen untuk serasi dengan lingkungan sekitar. “Danau Sunter yang berhadap dengan proyek kami menjadi added value. Kami menyesuaikan pengembangan dengan kondisi riil di lapangan. Itulah mengapa, label proyek ini dinamakan Green Lake,” ujarnya.

Green Lake Sunter rencananya dibangun dalam dua tahap pengembangan. Tahap pertama dua tower apartemen, masing-masing 800 unit dari total 3.200 unit dalam empat tower. Nama hunian jangkung ini diambil dari keberadaan danau Sunter seperti Southern Lake dan Northern Lake. Terdiri atas tiga unit tipikal; luas 17,47 m2, 18,37 m2, dan 36,14 m2. Ketiga tipe unit ini ditawarkan dengan gimmick penawaran hadap danau, kebun, kolam renang dan laut. Sehingga harganya pun berbeda-beda. Dimulai dari Rp160 juta sampai 450 juta per unit.

Kendati harganya relatif ramah pasar Rp9 juta/m2, karenanya dapat dikategorikan sebagai apartemen murah, Green Lake Sunter akan memasuki kompetisi sengit. Strategi APG yang ingin mengulang keberhasilan portofolio serial Mediterrania-nya dengan penawaran harga perdana murah, lokasi di dalam kota dan fasilitas memadai, atau setidaknya dekat dengan fasilitas eksisting, kali ini tak akan begitu saja berjalan mulus.

Di kawasan sekitarnya, terdapat rival yang siap menghadang dengan sajian seragam. Apalagi kalau yang menjadi variabel komparasi adalah harga. Sebut saja d’Green Pramuka Residences yang dibangun PT Duta Paramindo Sejahtera, Green Park Apartment milik PT….. dan Gading Icon-nya PT Mahardhika Propertindo. Semuanya menyasar kelas menengah bawah dengan harga lebih rendah, dimulai  Rp120 juta dengan luas unit lebih besar yakni sekitar 24 m2. Bahkan, ketiga proyek yang disebut terakhir ini memiliki keunggulan non teknis yang mencolok, berada di pinggir jalan raya. Sementara Green Lake Sunter, justru di dalam kawasan perumahan.

Kompetitor lain yang potensial membendung hasrat konsumen melirik Green Lake Sunter adalah saudara kandungnya sendiri yakni Gading Nias Residences. Kendati sudah rampung pembangunannya, namun pemasaran publik masih aktif dilakukan. Lokasinya memang berada di dalam kawasan Kelapa Gading, namun dengan harga aktual, diyakini dapat mengganggu market yang dibidik Green Lake Sunter.

Meski begitu, Dewi optimis, proyek yang dijadwalkan serah terima mulai 2012 ini bakal mendapat sentimen positif. “Ini karena konsep pengembangannya mixed use. Berbeda dengan kompetitor yang hanya mengandalkan hunian. Kami juga sudah memiliki captive market yakni konsumen yang sudah pernah membeli dan memiliki produk APG,” imbuhnya.

Selain hunian, APG juga bakal melengkapinya dengan hotel bintang tiga, lifestyle mall dengan penekanan pada tenan-tenan hiburan dan makanan seperti sinema, kafe,  restoran, pusat kebugaran,  dan  wedding ballroom yang masuk dalam pengembangan tahap II.  Ada pun fasilitas penunjang aktifitas penghuni antara lain arena bermain anak tematik, jalur jogging, shopping arcade dan sarana olahraga seperti lapangan futsal, tenis dan bulutangkis.

Bagi konsumen yang terlalu cerewet (kritis) akan artistika dan estetika fasad atau arsitektural bangunan, sepertinya belum dapat berharap banyak. Karena toh, seperti kata Dewi, pihaknya tidak akan bergenit-genit dengan tampilan luar yang ujung-ujungnya hanya akan membenani konsumen dengan harga yang lebih tinggi. “Kami melakukan optimalisasi di segala bidang, tak cuma lahan, juga desain bangunan. Sehingga produk yang kami hasilkan sangat efektif, dan turn over-nya (diharapkan, red)cepat,” lanjut Dewi.

About these ads

Satu Tanggapan

  1. harga paling murah untuk satu unit brapa? Dan bagaimna cara untuk mngajukan kredit KPR,jika menginkan kredit yang hanya selama 3tahun brapa depositnya dan brapa cicilanya.bagaimna cara menyicil jika bekerja dr luar negri.apa bisa langsung di kirim dr luar negri,trimkasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: