Puluhan Triliun Rupiah Siap Beredar di Pasar

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana sebagian besar pengembang fokus pada penyelesaian proyek yang tengah dikerjakan. Tahun 2012, akan ada banyak kejutan dengan nilai investasi gila-gilaan. Ini berkorelasi positif dengan kekinian kondisi ekonomi dan iklim investasi Indonesia yang semakin kondusif. Terakhir, negara kita masuk dalam investment grade dari Fitch Ratings menjadi BBB dengan outlook stabil.

Jelas, ini mendapat respon yang positif dan antusias dari pengembang. Mereka menganggap dengan masuknya Indonesia dalam peringkat investasi, permodalan asing akan deras mengalir. Dan itu sangat menguntungkan. Mereka semakin percaya diri merealisasikan rencana-rencana strategis tahun ini.

Salah satu yang menjadi atensi publik belakangan ini adalah Sinarmas Land Group. Usai melakukan rebranding korporat menjadi terintegrasi dalam satu nama, mereka secara agresif, mengimplementasikan aksi-aksi strategis.

Tahun ini, belanja modal perusahaan yang kini dinahkodai Michael Widjaja itu sebesar Rp3,25 triliun. Sebagian besar digunakan untuk akuisisi lahan, sebagian lagi untuk membuka township development baru dan sejumlah proyek komersial.

Begitupula dengan PT Summarecon Agung Tbk. Raja properti di kawasan kepala naga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, itu sudah siap dengan kelahiran portofolio anyar yang prestisius. Dikatakan Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki, capital expenditur untuk 2012 mencapai Rp1,3 triliun yang akan digunakan untuk membangun dua pusat belanja baru di daerah Serpong dan Bekasi serta fasilitas penunjang di dua perumahan skala kota mereka yakni Summarecon Serpong dan Summarecon Bekasi.

Sementara PT Bakrieland Development Tbk memandang 2012 dengan optimisme tinggi. Kendati nilai capex yang disiapkan tak sebesar perusahaan pengembang lainnya, namun Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib yakin dengan rencana strategis mereka akan berjalan lancar.

“Akan sangat bagus, terakhir Indonesia dapat investment grade, tanpa investment grade saja tingkat suku bunga sudah turun terus. Jadi, saya optimis proyek-proyek kami termasuk sektor infrastruktur tol, akan berjalan smooth. Bank Indonesia, terakhir menurunkan tingkat suku bunga hingga 50 basis poin menjadi enam persen. Tingkat suku bunga ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah Indonesia. Jadi, prospek bisnis properti juga semakin menjanjikan setelah sejumlah bank mulai memberikan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dengan tingkat suku bunga 7,5 persen,” ujar Hiramsyah.

Tahun ini, mereka akan memulai pembangunan perumahan Sentul Nirwana Residence (Jonggol, Jawa Barat), beberapa klaster baru dan area komersial di Bogor Nirwana Residence (Bogor, Jawa Barat), Lagoon Nirwana Resort (Balikpapan, Kalimantan Timur), kondotel di Jogjakarta, melakukan eskalasi dan akselerasi proyek-proyek City Properties yang sudah berjalan seperti Rasuna Epicentrum serta insfrastruktur jalan tol di empat ruas wilayah Jawa, berikut  fasilitas pendukungnya seperti rest area.

Lain lagi dengan PT Agung Podomoro Land Tbk yang menganggarkan dana belanja modal Rp3 triliun. Fulus  sebesar itu akan dipakai untuk membiayai proyek perseroan, baik yang telah ada maupun baru.  Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land Indra Wijaya menyebutkan proyek yang akan mereka lanjutkan pembangunannya tahun ini antara lain Green Bay, Pluit (Jakarta Utara) dan Kuningan City (Jakarta Selatan). Sedangkan untuk proyek baru, mereka akan membesut  JW Marriot di Bali, integrated  resort Vimala Hills di Gadog (Bogor, Jawa Barat), Grand Taruma (Karawang, Jawa Barat) dan Podomoro City Extension (jakarta Barat).

Berikut detil rencana-rencana pengembang besar tersebut:

Agung Podomoro Group

Rilis Empat Proyek Anyar

Melalui PT Agung Podomoro Land Tbk, imperium properti ini semakin agresif menguasai sektor industri properti. Mereka punya rencana segudang yang siap diimplementasikan pada 2012 ini. Tercatat empat proyek anyar yang akan digarap. Tak main-main, keempatnya diklaim sebagai proyek prestisius dengan nilai investasi di atas Rp500 miliar.

Keempatnya adalah JW Marriott Bali, resor terintegrasi Vimala Hills di Gadod (Jawa Barat), perumahan skala kota Grand Taruma (Karawang, Jawa Barat) dan Podomoro City Extension yang terdiri atas kantor, apartemen dan retail space. “Detilnya masih harus menunggu selesai budgeting. Perkiraan nilai investasinya sebesar itu,” ungkap Indra Wijaya, Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land.

Sebelumnya, perseroan telah mengakuisisi PT Alam Hijau Teduh (AHT), PT Karya Gemilang Perkasa, dan PT Putra Adhi Prima. Terbaru, mereka mengambil alih 99,93% saham PT Tiara Metropolitan Indah (TMI) yang merupakan pengembang Blok M Square. Akuisisi tersebut merupakan bentuk realisasi terhadap rencana penggunaan dana hasil penawaran umum obligasi I APLN tahun 2011 senilai Rp 1,2 triliun.

Hingga kuartal III 2011, pendapatan usaha yang masuk tercatat sebesar Rp2,7 triliun, atau naik 86,3% dibandingkan pada periode yang sama pada 2010 yang mencapai Rp1,4 triliun.  Peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari penjualan apartemen di  Podomoro City, Kuningan City dan Green Bay Pluit.  Sedangkan marketing sales yang telah dibukukan, mencapai Rp 3,3 triliun hingga September 2011. Jumlah tersebut hampir menyamai target tahun ini yakni sekitar Rp 3,5 triliun. Ada pun target pendapatan tahun ini diproyeksikan melonjak sebesar 50% menjadi Rp 2,91 triliun dari tahun lalu yang hanya membukukan Rp 1,94 triliun.

Intiland Development

Bangun Mega Proyek di Selatan Jakarta

Tak puas hanya dengan mendirikan Regatta The Icon of Jakarta, PT Intiland Development Tbk melanjutkan eksistensinya dengan megaproyek South Quarter. Tak kalah prestisius, besar dan masif, proyek ini berlokasi di koridor Simatupang, Jakarta Selatan. Ini merupakan sebuah kawasan bisnis baru di yang mengombinasikan enam tower perkantoran, kondominium dan serviced apartment serta fasilitas ritel.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Intiland Development Hendro S Gondokusumo mengatakan, nilai investasi untuk pengembangan tahap pertama diperkirakan mencapai Rp1,8 triliun, dan secara keseluruhan nilai investasi proyek South Quarter sekira Rp3 triliun.

South Quarter yang berada di atas lahan seluas 7,1 Ha dengan total luas bangunan 220.000 m2 ini akan dibangun secara bertahap.  Pengembangan tahap pertama akan dibangun tiga tower perkantoran dan fasilitas ruang ritel di atas lahan seluas 4,4 ha. Ketiga tower perkantoran ini terdiri dari bangunan gedung setinggi 20 lantai dengan luas total mencapai 120 ribu meter persegi. Sementara bangunan untuk fasilitas ritel seluas 9.000 m2. Pembangunan dimulai pada triwulan I 2012. Tahapan penutupan atap (topping off) targetnya dilakukan pada triwulan II-2013 dan pembukaan pada triwulan III-2014.

Intiland Development sendiri telah menyiapkan belanja modal dibandingkan tahun lalu, yakni di atas Rp1 triliun. Meningkatnya belanja modal tersebut karena banyak proyek baru yang akan dimulai berbarengan dengan South Quarter. Seperti Aeropolice Residence di Cengkareng, Jakarta Barat dan kelanjutan Graha Natuna di Surabaya (Jawa Timur). Adapun sumber capex tahun ini berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan dengan komposisi 50:50.

 

Ciputra Siapkan 1  Triliun Untuk CWJ

Menyadari besarnya dana yang dibutuhkan signature project mereka seperti Ciputra World Jakarta, Grup Ciputra jauh hari telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp2 triliun. Mayoritas dana tersebut yakni sebesar Rp1 triliun, diproyeksikan terserap oleh proyek yang berlokasi di koridor Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan tersebut.

Nantinya, dana untuk Ciputra World Jakarta akan didapat dari pinjaman konsorsium yang berasal dari dua bank lokal. Sedangkan sisa capex sebesar Rp1 triliun, akan dialokasikan untuk PT Ciputra Property Tbk (CTRP) dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRA), masing-masing sebesar Rp500 miliar.
Grup Ciputra juga menargetkan pertumbuhan kinerja penjualan (marketing sales) sebesar 90%. Yakinnya mereka dengan angka yang fantastis tersebut karena tahun ini akan dilansir sebanyak 12 proyek baru yang tersebar di seluruh Indonesia yang masuk dalam tiga sub holdings perusahaan.

Pengembangan di luar Pulau jawa akan dikonsentrasikan dan ditargetkan dapat mencapai penjualan sejumlah Rp700 miliar yang berasal dari landed residential. Sementara untuk proyek-proyek di Pulau Jawa, mereka akan fokus pada percepatan dan penyelesaian pembangunan. Selain tentu saja, akan ada beberapa proyek gress berupa high rise office and residensial. Termasuk di antaranya Ciputra World Jakarta sesi 3.

PT Summarecon Agung Tbk

Dua Pusat Belanja

Inilah salah satu perusahaan properti yang konsisten memperlihatkan kinerja penjualan fantastis. Tahun lalu saja, mereka sukses membukukan marketing sales sebesar Rp2,9 triliun. Untuk tahun ini, nilainya dilipatgandakan menjadi Rp3,5 triliun.

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Johannes Mardjuki, tahun ini akan lebih bagus kondisinya karena suku bunga bank cenderung turun. Dan itu menambah motivasi mereka untuk tak henti membidani kelahiran portofolio baru.

Selain pengembangan skala kota Summarecon Bandung seluas 300 Ha (saat ini baru 100 Ha lahan yang dibebaskan) juga akan dibangun Summarecon Mall Bekasi, e-Mall di Scientia Garden, green office park,  convention center, sports club The Spring dan hotel yang semuanya di Summarecon Serpong.

Untuk Summarecon Mall Bekasi telah dialokasikan dana sejumlah Rp500 miliar, sedangkan untuk convention center sebesar Rp200 miliar dan sports club Rp80 miliar. Sehingga total belanja modal perusahaan ini sebanyak Rp1,3 triliun yang sebagian besar porsinya berasal dari perbankan, yakni sekitar 70-80%.

Yang mengejutkan, PT Summarecon Agung Tbk juga akan menggarap wilayah yang selama ini dianggap ‘tabu’ dan bukan kepala naga. Mereka mulai berekspansi lebih ‘jauh’ dan menjajaki akuisisi lahan di Selatan Jakarta, yakni sekitar Cibubur, Bogor, Sentul dan Jonggol. Seperti halnya tipikal portofolio eksisting, mereka bakal membangun perumahan skala kota lengkap dengan fasilitas penunjangnya.

Aksi-aksi strategis tersebut sekaligus menepis persepsi publik bakwa selama ini Summarecon Agung sangat konservatif. “Jika ada lahan seluas yang kami inginkan di Mega Kuningan, Jakarta, sekalipun, kami akan memburunya. Hanya saja, lahan seluas minimal 50 Ha, sudah terbatas persediaan di dalam kota Jakarta. Karena itu kami menggeser orientasi pembangunan ke wilayah Selatan Jakarta,” ujar Johannes.

 

PT Bakrieland Development Tbk

Integrasikan Bisnis Properti dan Jalan Tol

Agresif dan ekspansif. Hanya dua kata ini yang cocok disematkan pada PT Bakrieland Development Tbk. Di bawah kendali Hiramsyah S Thaib, mereka bukan lagi pengembang medioker. Justru, tahun 2010 silam, banyak mengejutkan perhatian publik dengan ‘pembelian’ lahan besar puluhan ribu hektar. “Tak tertutup kemungkinan, kami akan menggenapkan pembelian lahan di Jonggol menjadi 35.000 ha, dari 12.500 Ha yang telah kami kantongi,” ungkap Hiramsyah.

Apalagi pasca Fitch Ratings memasukkan Indonesia ke dalam investment grade yang menurut Hiramsyah, akan banyak berkontribusi terhadap kegairahan sektor properti dengan masuknya dana asing yang pada gilirannya bakal meningkatkan product domestic brutto (PDRB).

2012 ini, mereka punya banyak rencana strategis. Di antaranya mempercepat terjalinnya kerjasama dengan mitra strategis, baik untuk pengembangan jalan tol maupun properti.  Agar mereka, lanjut Hiramsyah, tak terlalu banyak mencari pinjaman dari bank. Asal tahu saja, tahun lalu mereka berencana melakukan improvisasi keuangan dengan mencari utang sebesar Rp1 triliun yang akan digunakan untuk refinancing utang yang jatuh tempo pada 2013 sebesar Rp500 miliar. Sisa dari Rp1 triliun tersebut dipakai untuk membiayai belanja modal.

“Sudah ada beberapa mitra strategis yang tertarik dengan tawaran kami. Di antaranya dari Asia. Timur Tengah tidak lagi. Yang gencar memang investor asal Asia,” ungkap Hiramsyah seraya menambahkan, akselerasi pembangunan menuju penyelesaian dan pembukaan terus digenjot.

Di samping itu, tahun ini mereka akan serius menggarap proyek-proyek properti di daerah, seperti kondotel di Jogjakarta, Lagoon Nirwana Resort di Balikpapan, Kalimantan Timur, resort dan kondotel di Lampung, vila di Ubud, Bali dan beberapa perumahan skala menengah lainnya yang akan diintegrasikan dengan pembangunan jalan tol yang tengah dalam tahap assessment. Seperti ruas tol Bogor-Ciawi-Sukabumi sepanjang 54 Km, Pejagan-Pemalang (58 km), Batang-Semarang (75 km), dan Pasuruan-Probolinggo (45 km).

Di ruas-ruas jalan tol tersebut Bakrieland Development menawarkan kerjasama kepada usaha mikro, kecil dan menengah guna mengisi ruang-ruang di rest area yang akan mereka bangun. UMKM yang dimaksud, tentu saja yang memiliki akar industri kerajinan khas daerah-daerah yang dilalui oleh jalur tol yang mereka bangun. “Saya optimis ini bsia berjalan. Mengingat sinergi jalan tol dan properti telah menunjukkan hasil menggembirakan. Akan kami teruskan upaya positif ini,” imbuh Hiramsyah.

Ada pun laba bersih mereka hingga semester I-2011, sebesar Rp 126,1 miliar atau melonjak 100,2% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 63 miliar. Unit usaha city property menjadi kontributor terbesar senilai Rp 764,2 miliar atau 73,2% dari total penjualan. Disusul oleh unit usaha landed residential Rp 130 miliar (12,5%),  hotel & resort Rp 93,96 miliar (9,9%), dan jalan tol Rp 41,76 miliar (4,4%).

 

Sinarmas Land

Beli Tanah dan Bangun Kota

Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terkemuka di Asia Tenggara semakin serius mewujudkan visi untuk menjadi the leading property developer in South East Asia, dengan menyiapkan langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Michael Widjaja, Group CEO Sinar Mas Land menyatakan untuk tahun ini, Sinar Mas Land sudah menyiapkan investasi untuk Capital Expenditure & Investment activities sebesar Rp.3.25 Triliun dimana sebagian besar dari dana tersebut akan dialokasikan untuk akuisisi tanah.

Mereka masih akan fokus pada pengembangan proyek-proyek township/residential dan proyek komersial. “Di BSD City saja kita masih memliki lahan sekitar 4,500 hektar lagi jadi masih banyak ruang untuk melakukan pengembangan, begitupun di Kota Deltamas Cikarang yang saat ini masih memiliki land bank lebih dari 2,000 hektar untuk dilakukan pengembangan di sektor residensial maupun industrialnya yaitu di Greenland International Industrial Center (GIIC) yang juga berada di kawasan tersebut,” tandas Michael.

Mereka juga berencana berencana menambah koleksi land bank di kawasan Jawa Timur, Bali dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Kemungkinan besar akan ekspansi ke dua sampai tiga  kota baru dalam waktu 3 tahun mendatang yang sebelumnya tidak terdapat di portofolio  Sinar Mas Land.

Tak hanya itu, Sinar Mas Land juga akan mengembangkan bisnisnya ke luar negeri. Untuk jangka pendek, ada beberapa negara di kawasan Asia Tenggara yang tengah dijajaki serius. Guna mempercepat pertumbuhan dan pengembangan proyek di luar negeri, Sinar Mas Land akan menggandeng partner strategis di negara-negara tersebut.

Proyek komersial seperti Greenland International Industrial Centre (GIIC) – Kota Deltamas, Cikarang, Karawang International Industrial City (KIIC) dan beberapa proyek komersial baru yang akan dibangun di tahun 2012 oleh Sinar Mas Land ditargetkan memberikan kontribusi sekitar 45 % dari total target penjulan Sinar Mas Land tahun 2012.

Sementara sekitar 37 % pendapatan lainnya di tahun 2012 akan diperoleh dari proyek-proyek residential. Seperti yang berada di BSD City, Grand Wisata Bekasi, Kota Wisata Cibubur, Legenda Wisata Cibubur,  Taman Permata Buana Jakarta serta berbagai proyek residential lainnya termasuk yang berada di Surabaya dan Balikpapan. Sedangkan unit bisnis strategis Asset Management seperti, penyewaan ruang mall/trade center, Gedung Perkantoran, Hotel Le Grandeur, serta berbagai proyek asset management lainnya ditargetkan berkontribusi sebesar 15 % dari total target penjualan.

Michael Widjaja kini bertanggungjawab atas sejumlah proyek properti di Indonesia, diantaranya proyek-proyek berskala kota/Township yaitu BSD City (6.000 hektar) dan Kota Delta Mas Cikarang (3.000 hektar), Grand Wisata Bekasi (1100 hektar) dan Kota Wisata Cibubur (1000 hektar) .

Plus membawahi sejumlah kawasan perumahan (residential) di Jabodetabek yaitu, Legenda Wisata Cibubur, Banjar Wijaya Tangerang, Telaga Golf Sawangan, Grand Wisata Bekasi, Taman Permata Buana Jakarta, Bale Tirtawana Bogor. Sementara di Surabaya yaitu : Wisata Bukit Mas dan Villa Bukit Mas, di Balikpapan yaitu, Balikpapan Baru dan Grand City, sementara di Batam yaitu Taman Duta Mas Batam.

Portofolio lainnya adalah Hotel Le Grandeur Jakarta, dan Le Grandeur Balikpapan, serta sejumlah gedung perkantoran diantaranya Plaza BII Jakarta, Wisma BII Medan, Wisma BII Surabaya, Wisma Eka Jiwa, dan Wisma BCA di BSD City.

Sinar Mas Land juga merupakan pionir untuk jenis “strata” Retail & Trade Center, yaitu ITC Mangga Dua Jakarta, ITC Kuningan Jakarta, ITC Cempaka Mas Jakarta, ITC Roxy Mas Jakarta, ITC Permata Hijau Jakarta, ITC Fatmawati Jakarta, ITC Depok, DP Mall Semarang dan ITC Surabaya Mega Grosir.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: