Rorotan Kirana Legacy, Incar Pembeli Kelapa Gading

PT Nusa Kirana adalah salah satu perusahaan perintis kota baru Kelapa Gading. Bersama dengan PT Summarecon Agung Tbk, mereka berdua menyulap kawasan yang dulu merupakan rawa-rawa, menjadi “kepala naga”. Di mana investasi apa pun yang dilakukan di sini, akan berbuah manis. Termasuk investasi properti.

Itu adalah kisah indah masa silam. Ketika keduanya bercerai, mereka memilih jalan masing-masing mengembangkan lahan-lahan kuota sesuai kesepakatan keduanya. Tak puas hanya menghasilkan karya di Kelapa Gading, keduanya kemudian menjamah kawasan luar. Jika Summarecon berpaling ke Bekasi dan Serpong, Nusa Kirana justru mencari peruntungan di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Apa yang membuat Nusa Kirana tertarik menggarap kawasan yang identik dengan keidaktertiban ini? Adalah potensi pertumbuhan nilai properti, menurut Kepala Bidang Perencanaan dan Pembangunan Nusa Kirana Yoce A Kaleb, yang cukup prospektif.

“Kami belajar dari Kelapa Gading. Ketika semua orang menghindarinya, kami justru melihat potensinya. Sama halnya dengan kawasan Rorotan ini. Sekarang memang sama sekali tak ada pengembangan perumahan modern yang tertata baik dan rapi. Nah, kami ingin merintis itu. Ketika kami sudah memulai pengembangan, tentu situasi berbeda akan kita jumpai di sini,” ujar Yoce.

Jadilah, sejak Desember 2012, mereka mulai memperkenalkan Rorotan Kirana Legacy. Menempati lahan seluas 120 Ha yang sudah dibebaskan dari total 200 Ha. Keyakinan Nusa Kirana akan potensi Rorotan, rupanya tak main-main. Mereka tak cuma membangun rumah sebanyak 1.600 unit, juga telah memulai pembangunan sarana dan prasarana sejak 2005.

Saat itu, yang dilakukan oleh mereka adalah menepis imaji publik terhadap Rorotan sebagai kawasan langganan banjir. Mereka membangun infrastruktur sekaligus menguruk lahan pengembangan setinggi 2-3 meter. Selain itu, mereka juga tengah berusaha meminta Pemda DKI untuk membuat jalur khusus menuju perumahan. Upaya ini sebetulnya wajar, mengingat mereka sudah membangun akses sebrupa jalan masuk/keluar kawasan selebar (right of way) 50 meter sesuai dengan arahan Pemda DKI sendiri. Akses ini berujung di kawasan Kanal Banjir Timur dan Cakung Cilincing.

Kendati memakan biaya yang cukup besar, namun   mereka puas. Karena saat ini, Rorotan terbilang stabil, banjir tidak lagi menggenangi kawasan ini dan perlahan imaji kawasan sebagai tempat kelas menengah mulai menemukan bentuknya.

Rorotan Kirana Legacy ditawarkan per unit senilai Rp729 juta hingga Rp2 miliar dengan luas lahan sekitar 120 m2. Terhitung kompetitif dan terjangkau untuk mereka yang tidak sanggup membeli properti di kawasan premium seperti Kelapa Gading, Sunter, atau Pulomas.

Terbagi atas 7 klaster dengan tiga tahap pengembangan. Klaster pertama dilansir pada Desember 2012 dengan jumlah rumah 218 unit, masuk dalam pengembangan tahap satu. Terserap pasar sekitar 20%.

Sedangkan area komersialnya yang dialokasikan seluas 30% dari total luas lahan kawasan akan dibangun pada tahap kedua yakni 2015. Berisi vertical commercial area yang terdiri atas perkantoran, sekolah terpadu yang berkaitan erat dengan kesehatan/rumah sakit, dan rumah sakit serta pusat belanja kuliner dan water park. Selain itu, dilengkapi juga dengan sport club, futsal, kolam renang, basket, dan lapangan tenis. 

Tahap ketiga akan dilakukan atas sisa 80 Ha pasca 120 Ha perdana terealisasi. Ini merupakan strategi bisnis di mana harga atas properti awal tumbuh signifikan, maka pengembangan terakhir baru dilakukan kemudian. Ketika semua properti berikut fasilitas komersialnya terbangun, maka potensi pertumbuhan harganya diproyeksikan akan mencapai 10-15% per tahun. Bahkan jika pengembangan tahap ketiga dimulai pun, harga properti akan mencapai pertumbuhan puncaknya.

Sebagai instrumen investasi, Rorotan Kirana Legacy memang butuh kerja keras untuk menaklukkan pasar. Hal ini disadari betul oleh Nusa Kirana. Untuk itu, selain mengerjakan lebih dahulu infrastruktur, akses beserta kelengkapan “kota” lainnya, mereka juga menerapkan strategi personal approach terhadap calon konsumen. Karena, selama ini buyer produk Nusa Kirana sebagian besar merupakan repeat buyer atau loyal customer.

Edukasi produk digenjot habis-habisan. Mengingat untuk melakukan penetrasi pasar, tak hanya loyal buyer yang disentuh, mereka butuh beberapa faktor yang mempengaruhi minat pasar atau konsumen baru. Karena, nama Nusa Kirana memang kalah popular dibanding pengembang lainnya. Untuk itu, mereka justru melakukan penekanan pada kualitas properti, kualitas lingkungan, kenyamanan, keasrian,  dan aspek legal. Selain itu, mereka juga dibebaskan untuk menggenadeng bank pilihan masing-masing guna mendukung pembiayaan KPR-nya.

Sebuah upaya yang menguntungkan konsumen, sejatinya. Dan ekspektasi mereka adalah property growth di Utara Jakarta yang sangat tinggi, dapat tersebar merata di seluruh kawasan. Tak hanya di Kelapa Gading, Sunter dan atau Pulomas, juga Cakung dan Cilincing.

Dengan harga yang relatif kompetitif, pebisnis dan eksekutif muda generasi kedua dari keluarga-keluarga perdana penghuni area Kelapa Gading yang menjadi sasaran bisa terjaring dengan mudah.

Ekspektasi mereka, pembeli beruntung. Bagaimana dengan masa depan investasi proeprti di sini? Harga properti di pasar sekunder tentu akan dinamis dan berpotensi bergerak naik. Seiring dengan kemajuan pembangunan fisik. Saat ini saja, ketika akses menuju Rorotan Kirana Legacy dirintis, harga lahan sudah mencapai 20% lebih tinggi menjadi Rp7 juta-10 juta/m2.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: