Ascott Kembangkan Jaringan Di Surabaya

Ascott Waterplace Surabaya Facade

 

The Ascott Limited (Ascott), bisnis unit serviced residence yang dimiliki seluruhnya oleh CapitaLand, telah mendapatkan kontrak manajemen untuk brand Ascott Serviced Residence pertama di Surabaya. Ascott Waterplace Surabaya akan terdiri dari 181 apartemen yang dijadwalkan untuk buka di tahun 2014. Ini merupakan properti Ascott yang ketiga di Surabaya, setelah Citadines Marvell Surabaya dan Somerset Surabaya Hotel & Serviced Residence. Hal ini juga memperkuat posisi Ascott sebagai pemilik operator serviced residence internasional terbesar di Indonesia, dengan lebih dari 2,200 apartemen di 10 properti.

Alfred Ong, Managing Director untuk Asia Tenggara dan Australia, mengatakan: “Ascott melihat pertumbuhan yang sangat potensial di Indonesia, perekonomian terbesar di Asia Tenggara, yang telah mencatat dan menarik penanaman modal asing sebanyak S$7.2 milliar di kuartal ketiga tahun 2012. Selain memiliki kedudukan yang kuat di Ibukota Jakarta, kami memperluas kehadiran kami di Surabaya dengan brand unggulan kami Ascott. Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dan rumah untuk pelabuhan utama di bagian timur pulau Jawa.

Pertumbuhan komersial, manufaktur, dan pertemuan-pertemuan serta sektor konvensi telah menarik wisatawan internasional dan bisnis wisatawan domestik. Ascott Waterplace Surabaya yang eksklusif menawarkan akomodasi mewah, dukungan bisnis dan layanan pribadi, yang akan melengkapi properti kami yang ada dan dapat memenuhi meningkatnya permintaan untuk akomodasi kelas internasional di kota ini.”

Kontrak manajemen untuk Ascott Waterplace Surabaya telah diberikan kepada Ascott oleh Grup Pakuwon, salah satu pengembang real estate terbesar di Indonesia. Bapak Alexander Tedja, Pendiri Grup Pakuwon, mengatakan: “Kami sangat senang dapat mempererat kerjasama dengan Ascott. Ini adalah properti kedua yang dikelola oleh Ascott dari Grup Pakuwon. Properti pertama adalah Somerset Berlian Jakarta yang telah memiliki kinerja yang baik dengan tingkat hunian yang kuat lebih dari 80% sejak dibuka. Kami akan terus untuk memanfaatkan keahlian Ascott di dalam mengelola serviced residences untuk meningkatkan nilai pengembangan kami. Kami berharap untuk dapat bermitra dengan Ascott di tahun-tahun berikutnya.”

Selain Ascott Waterplace Surabaya, Ascott akan membuka Ascott Kuningan Jakarta dan Citadines Rasuna Jakarta di 2013, Somerset Kencana Jakarta di 2014 serta Citadines Marvell Surabaya di 2015. Saat ini Ascott mengelola Ascott Jakarta, Somerset Berlian Jakarta, Somerset Grand Citra Jakarta, Somerset Surabaya Hotel & Serviced Residence dan Coutrywoods Residences di Jakarta.

Bangunan 32 lantai Ascott Waterplace Surabaya akan memberikan pilihan satu, dua dan tiga-kamar apartemen untuk wisatawan bisnis. Di setiap apartemen yang luas dan mewah ini  menawarkan dapur dengan peralatan lengkap, ruang kerja dan ruang tamu yang terpisah serta fasilitas modern seperti home entertainment system dan konektivitas internet nirkabel. Sebagian besar apartemen juga dilengkapi dengan akses lift pribadi. Selain itu, penghuni dapat menikmati fasilitas yang tersedia

Citradream Cirebon Mulai Dibangun

Ciputra Group, melalui anak perusahaannya, PT. Ciputra Ayutapradana memluai pembangunan  budget hotel pertama dengan brand “citradream”. Berlokasi di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo, Cirebon.

Perkembangan industri pariwisata di Indonesia, termasuk di Jawa Barat makin tahun makin menjanjikan, untuk itu perlu adanya penambahan berbagai infrastruktur yang akan menunjang perkembangan industri ini. Makin maraknya penerbangan dengan konsep budget airlines juga membuat orang-orang makin mudah untuk melakukan perjalanan. Pemerintah pusat sendiri pada Gelar Seni Budaya Keraton Cirebon yang baru lalu telah mencanangkan anggaran untuk revitalisasi keraton-keraton di Cirebon sebagai stimulus perkembangan wisata di daerah tersebut. Dalam hal ini, Ciputra Group bermaksud untuk turut serta dalam membangun pariwisata Cirebon dengan menghadirkan budget hotel yang terjangkau bagi semua kalangan wisatawan.

“Ciputra Group melihat peluang ini dengan berusaha merangkul pasar wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang ingin berwisata namun dengan bujet terbatas,” demikian Cakra Ciputra, Direktur PT. Ciputra Ayutapradana. Cakra Ciputra menambahkan, mereka berencana mengembangkan 20 hotel citradream dalam dua tahun ke depan di seluruh Indonesia. Saat ini sedang dipersiapkan pembangunan di kota-kota seperti : Semarang, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, Bengkulu, termasuk di daerah Serpong dan Bintaro untuk wilayah Jabodetabek.

Penginapan yang mengusung standar International, modern dan terjangkau bagi pasar domestik maupun mancanegara ini menghabiskan total investasi sebesar kurang lebih Rp 47 miliar, dengan target penyelesaian di kuartal terakhir tahun 2013.

citradream Cirebon berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1.600 meter persegi. Hotel akan dibuat setinggi 8 lantai dengan 121 kamar dan dilengkapi dengan dua ruang rapat yang dapat digabung menjadi satu. Sementara itu, pada saat pembukaannya nanti, harga per kamar per malam akan berada di kisaran Rp 400 ribu. Harga tersebut dirasakan cukup bersaing dengan berbagai budget hotel yang sudah ada sekarang.

“Kami menargetkan occupany rate di tahun pertama sebesar rata-rata 70 persen,” ujar Megahwira, Project Manager PT. Ciputra Ayutapradana.

Aston Plans to Open 40 New Hotels in 2013

During this year’s Aston Week Surabaya, an annual trade show that brings representatives of more than 60 Aston managed Hotels and East Java’s Travel Trade and Media Communities together, Aston International announced plans to open 40 new hotels in 2013.
The new hotels include a wide range of properties such as Aston’s first 4-star life style Alana Hotel which is set to open in February in Seminyak Bali , several 4 star Aston and 3 star Aston City Hotels which are set to open in Belitung, Bekasi, Bojonegoro, Jambi, Jember, Kupang, Lampung, Madiun and Solo, 1 trendy 3 star Quest Hotel on Jalan Mangkubumi in Yogyakarta and numerous select service favehotels and superior select service Hotel NEOs including 9 in Jakarta, 5 in Bali and others in Balikpapan, Bandung, Lampung, Malang, Medan, Palembang, Samarinda and Semarang.
 
While continuing to expand its more upscale core hotel brands Grand Aston, Aston, and Aston City Hotels throughout Indonesia’s vast archipelago the group also focuses on Indonesia’s budget hotel segment were it already operates 16 favehotels, plans to open another 27 faves and NEOs in 2013 and has a strong pipeline beyond next year with more than 30 hotels set to open by 2014 and 2015.
 
Aston Internationals Vice President of Sales & Marketing, Mr. Norbert Vas, said: “Aston entered Indonesia 15 years ago with one hotel in Bali. Back then in 1997, foreigners where leaving the county and global hotel chains had their eyes fixed on China not recognizing Indonesia’s potential. We stayed, settled down and made Indonesia our home, learned the language and local ways and were firm believers in Indonesia’s future with a strong desire to be part of it. We now have thanks to our local partners grown to more than 60 operating hotels with a construction pipeline of more than 12.000 rooms and enjoy industry leading occupancy levels and guest loyalty throughout our entire system.“

MGM Land: Tiga Superblok Dalam 5 Tahun

Lupakan sejenak lingkaran papan atas pengembang Nasional yang didominasi nama itu-itu saja. Silakan dilirik pemain anyar dengan amunisi tak bisa dibilang “hambar”. Ya, bisnis dan industri properti Indonesia yang tetap tumbuh di kisaran 15-20% dan kelak 2013 diprediksi masih dua digit, menstimuli lahirnya pengembang-pengembang  baru, untuk tidak dikatakan dadakan.

Pengamat properti  dari Pusat Studi Properti Indonesia, Panangian Simangkalit berani bertaruh bahwa pertumbuhan dua digit tersebut akan terus berlanjut hingga 2015. “Jadi, untuk para pebisnis atau investor, inilah momentum yang tepat untuk merealisasikan investasi anda di sektor properti,” ujarnya.

Dan PT Mitra Gemilang Mahakarya (MGM Land) meyambut positif pertumbuhan properti yang notabene merupakan salah satu generator pertumbuhan ekonomi dengan beberapa rencana strategis. Pengembang yang dibentuk pada 2011 tersebut percaya diri memaparkan milestone-nya untuk lima tahun ke depan. “Selain membangun CBD Balikpapan, kami juga akan membangun CBD Pontianak dan CBD Manado,” ujar Presiden Direktur PT MGM Land, Suyanto Chandra.

CBD Balikpapan menempati area seluas 8,7 Ha dan akan diperluas menjadi 15 Ha, dengan nilai investasi Rp3,9 triliun. Terdapat 8 jenis properti; citywalk, apartemen, hotel berbintang, resort, pusat belanja, office park, mini office, office tower, dan convention center. Dijadwalkan rampung keseluruhan pada 2016.

Sementara CBD Pontianak, Kalimantan Barat, akan mulai digarap pada 2014. Saat ini lahannya tengah dalam proses akuisisi. Begitupula dengan CBD Manado., Sulawesi Utara. Keduanya dipandang Suyanto sebagai kota-kota dengan potensi menarik. Selain karena faktor sentimen kedaerahan, Suyanto berasal dari Pontianak, juga perkembangan kotanya yang terhitung progresif. Dus, belum ada pengembangan sejenis CBD di kedua kota tersebut.

Rencana berikutnya adalah mengoleksi lahan-lahan di lokasi strategis di Balikpapan, Kalimantan timur. Saat ini mereka tengah memasuki tahap akhir pemilikan lahan seluas 85 Ha di satu lokasi terpadu, dan 8 ha sera 2 Ha di lokasi lainnya, tak jauh dari pusat kota. Jika dikalkulasi dengan luasan CBD Balikpapan, land bank MGM Land di kota minyak ini seluas 110 Ha.

MGM Land pada 2012-2013 ini mengalokasikan dana sebesar Rp 280 miliar sebagai belanja modal. Uang sebesar itu digunakan untuk bangun citywalk di CBD Balikpapan, akuisisi lahan di Pontianak dan Manado.

Apa strategi bisnis MGM Land? Bagaimana mereka memanfaatkan land bank-nya? Presiden Direktur PT MGM Land, Suyanto Chandra menjelaskan, MGM Land saat ini memasuki masa transisi positif. Di mana selama 4 tahun mereka secara personal  mengembangkan properti residensial di Tangerang, Banten. Saat ini, lompatan besar dalam rekam jejak usia personal dan profesional Suyanto beserta Indra Salim, koleganya tengah secara intensif dialami.

“Kami secara resmi masuk di semua segmentasi pasar. Mulai dari residensial, komersial, mixed use development, pasar modern, perkantoran, hotel, pusat belaja dan apartemen. Tapi kami lebih memilih sekaligus pengembangan besar yang mengintegrasikan beberapa jenis properti,” papar Suyanto.

Dengan segmentasi bisnis yang spesifik tersebut, MGM Land akan lebih fokus mengelaborasi visi, misi dan kemampuan finansial serta pembacaan mereka terhadap pasar yang terus mengalami pergerakan dinamis.

Mereka begitu yakin dapat melakukan lompatan tersebut dengan presisi bahkan mulus. Karena, sebelum mencetak pencapaian seperti saat ini, embrio MGM Land hanya berbekal omset senilai Rp5 miliar pada 2008. “Tapi kami tak pantang menyerah. Dengan ketekunan luar biasa, mau melakukan inovasi dan diferensiasi produk, hasilnya setiap rumah yang dipasarkan selalu terserap pasar maksimal,” kenang Suyanto.

Terbukti, tiga prinsip tadi; ketekukan, inovasi dan diferensiasi, membuat Tangerang Golden City sebagai cikal bakal terbentuknya MGM Land, terbangun 600 unit di atas lahan 8 Ha. Menyusul Garden Residence seluas 35 Ha, dan Golden Mansion yang merupakan perumahan eksklusif seluas 6 Ha.

Strategi lain yang patut dijadikan acuan oleh pengembang baru adalah, relasi positif yang terjalin dengan para pemasok material bangunan.  “Membina hubungan humanis memang lebih sulit daripada hubungan bisnis. Namun, kami berkomitmen untuk membangun keduanya seiring sejalan. Hasil akhir adalah mereka para pemasok itu memberikan kepercayaannya pada kami yang pada gilirannya kami mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Jika rantai produksi ini lancar, yang diuntungkan adalah konsumen. Mereka membeli produk kami. Dan itu sama artinya mereka membeli kepercayaan,” papar Suyanto.

Sedangkan untuk perkuatan konstruksi finansial, MGM Land memanfaatkan jaringan (link) dengan lembaga investasi dari Singapura. Secara kebetulan, Suyanto Chandra adalah financial planner dan business development manager di Singapura dan Malaysia. Kariernya sebagai banker di Citibank, UOB Buana dan Danamon juga pernah dijalani, sehingga membentuk jaringan bisnis  simbiosis mutualis.

“Kami mengelola dana investasi dan membenamkannya di sektor properti dengan kesungguhan dan komitmen serta optimis tiga superblock dapat terbangun sesuai target,” imbuh Suyanto

 

 

 

 

CBD Balikpapan, Definisi Baru Gaya Hidup Urban

Familiar dengan MGM Land? Mungkin Anda terbiasa dengan pengembang besar seperti Agung Podomoro Land, Ciputra Group, Intiland Development atau Lippo Karawaci yang bukan sekadar nama, tapi sudah menjadi kekuatan brand itu sendiri. Namun dengan MGM Land? Terdengar asing, atau jangan-jangan Anda malah mengaitkannya dengan perusahaan film Hollywood Metro Golden Meyer yang disingkat MGM juga.

 

Memang, perusahaan pengembang ini baru seumur jagung. Didirikan pada 2011 oleh duo anak muda Suyanto Chandra dan Indra Salim. Namun gebrakan mereka di Balikpapan, Kalimantan Timur, mampu menghentak pemain properti sekaliber Agung Podomoro Land (APLN), Supermall Karawaci, Bakrieland Development dan Ciputra Group. Di kota pesisir pantai itu, MGM Land membesut CBD Balikpapan.

 

Ini merupakan proyek komersial skala besar perdana mereka. Tak tanggung-tanggung, kualifikasinya pun superblok. Menempati area seluas 8,7 Ha di kawasan Dome, atau tepatnya Jl Sariffudin Yoes. Kiprah MGM Land, yang sebelumnya dianggap sebagai anak bawang, diakui atau tidak telah melecut APLN untuk menyegerakan konversi The Plaza Balikpapan menjadi mixed use development paling prestisius. Padahal, pasca mereka mengakuisisi Pandega Citraniaga awal tahun lalu, progres pengembangan terkesan berjalan lambat.

 

Namun, ketika hoarding CBD Balikpapan menghiasi wajah kota dengan warna dominan merah, konstelasi bisnis dan industri properti di Balikpapan betul-betul kian ketat, untuk tidak dikatakan sengit. “Kami mengakuisisi lahan seluas ini persis setahun yang lalu pasca secara legal, organisasi MGM Land terbentuk. Awalnya untuk koleksi land bank kami. Tapi, setelah dilakukan kajian fisibilitas, kami memutuskan memanfaatkan lahan ini untuk dikembangkan CBD Balikpapan,” jelas Presiden Direktur PT Mitra Gemilang Mahakarya (MGM Land) Suyanto Chandra.

 

CBD Balikpapan hadir di tengah keriuhan proyek-proyek multifungsi. Merangkum tak kurang dari 8 jenis properti. Mulai dari Citywalk, Apartemen, hotel berbintang dan resort, office park, office tower, convention center, dan shopping mall.

 

Dari sekian jenis properti, yang akan dibangun lebih dulu adalah citywalk. MGM Land mengusung konsep alfresco dining dua muka, yang terdiri atas 62 gerai dengan luas total bangunan 95.000 m2. Didominasi oleh tenan-tenan F&B atau sebanyak 80% dari alokasi ruang. Citywalk ini didirikan di atas lahan seluas 2 Ha.

 

“Kami merancang citywalk tidak sekadar sebagai tempat makan atau hang out. Justru kami ingin menciptakan gaya hidup baru kaum urban Balikpapan. Bahwa di sinilah tempat yang tepat untuk mengekspresikan dan aktualisasikan diri. Mulai dari hiburan, music, apresiasi seni dan lain-lain. Rencananya akan secara berkala diselenggarakan panggung pertunjukan seperti seni pantomim, berbagai jenis aliran music, atau seni pertunjukan lainnya,” papar Suyanto.

 

Beberapa brand tenan F & B yang sudah menyatakan pre komitmen adalah yang berasal dari Mitra Adi Perkasa, Metrox Group dan Transmahagaya. Tak hanya itu, strategi yang mereka terapkan dengan melakukan aliansi bisnis bersama Perhimpunan Perusahaan Restoran dan Café membuat ruang-ruangnya mudah terserap. “Kami komit akan mengoperasikan citywalk pada 2013 atau awal 2014,” imbuh Suyanto.

 

Siapa pesaing sejati Citywalk? Tak lain dan tak bukan adalah Plaza Balikpapan baru di atas reklamasi. Wakil Presiden Direktur APLN, Indra Wijaya mengatakan, konsep Plaza Balikpapan reklamasi tidak jauh berbeda dengan Central Park di Podomoro City, Jakarta Barat. Ada satu koridor yang didedikasikan untuk alfresco dining khusus tenan F&B. Tak hanya itu, “Kami akan melengkapinya dengan taman semacam Tribeca Park dan landscape design yang indah. Sehingga bangunan ini menjadi one stop living destination. Belanja, tinggal, menikmati hiburan, semua dilakukan di satu tempat,” ujar Indra.

 

Jika dilihat dari kekuatan konsep dan tenan pengisi, Citywalk @CBD Balikpapan dan Plaza Balikpapan memang setara. Namun, dari segi lokasi, The Plaza Balikpapan, secara tradisi sangat diuntungkan. Karena dia berada di episentrum kota. Sebaliknya dengan CBD, kendati berada di luar pusat bisnis, namun daerah dome merupakan jalur perlintasan Balikpapan-Samarinda. Di sinilah kantor-kantor pemerintahan, perbankan, dan kelak perushaan otomotif terkonentrasi. Sehingga kans mereka didatangi pengunjung, terbuka lebar. Tinggal bagaimana MGM Land setia pada komitmennya untuk tepat waktu membangun.

 

Chief Executive Officer Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, mengatakan Balikpapan yang mencuat sebagai pilihan investasi utama di luar Jawa, pantas dimasuki pengembangan-pengembangan sekelas mixed use development. Utamanya jenis properti komersial yang menekankan pada konsep lifestyle atau gaya hidup. “Pusat belanja non konvensional, hotel, kondotel dan convention center sesuai dengan dinamika yang tengah terjadi saat ini di sana. Banyak ekspatriat dan pebisnis dari Jakarta, Surabaya, sekadar menyebut contoh yang membawa virus gaya hidup baru,” timpalnya.

 

Wajar jika beberapa gerai gaya hidup, katakanlah yang direpresentasikan oleh Blitz Cineplex, Celebrity Fitness, Starbucks, dan kelak Burger King serta Seven Eleven disambut kehadirannya dengan antusias. Dan terlihat di beberapa sudut gerai, selalu dipenuhi pengunjung.

 

“Itulah yang memotivasi kami, tak hanya membangun citywalk juga shopping mall. Pusat belanja yang dinamakan Mall of Balikpapan itu nantinya diisi oleh anchor tenant toko buku, department store, home appliance, dan supermarket. Nama-nama macam Gramedia dan Metro Department Store, sedang kami jajaki.Dalam fase pengembangan, setelah citywalk, kami akan bangun apartemen, hotel, dan kemudian pusat belanja. Kami targetkan hingga 2016, semuanya terbangun,” janji Suyanto.

 

Guna merealisasikan superblok ini, MGM Land membutuhkan dana hampir Rp4 triliun atau tepatnya Rp3,9 triliun. Selain digunakan untuk membangun citywalk, juga 6 tower apartemen yang berisi 1.100 unit, office park sebanyak 26 unit dengan tipikal 4 lantai seluas 8×20 m, 1 hotel bintang 3, 1 hotel bintang 5 dan 1 hotel berkonsep resort. Dua di antaranya akan dikelola oleh international chain operator. Sementara office tower-nya terdiri atas 10 lantai dan akan dijadikan sebagai head quarter MGM Land untuk wilayah luar Pulau Jawa.

 

Menilik dari jumlah apartemen yang ribuan unit, kerja ekstra keras sangat dibutuhkan guna menarik minat pasar. Golden Apartment harus berkompetisi dengan 5 menara apartemen di Pentacity kepunyaan PAM Group. Kendati kelasnya berbeda, keduanya kini tengah dipasarkan. Pentapolis di Pentacity lebih dulu dilansir dengan harga Rp600 juta-1,5 miliar untuk tipikal 1 kamar tidur hingga 3 kamar tidur. “Kami mampu menjual 30% dari total 126 unit menara pertama (Aeropolis) per November,” ungkap Senior Marketing & Promotion Manager Pentacity, Ricky Tjan seraya menambahkan Pentapolis terdiri atas 5 tower dengan keseluruhan 400 unit apartemen.

 

Sementara Golden Apartment sedikit di bawahnya. Ditawarkan mulai dari harga Rp350 juta-800 juta. Cukup kompetitif dan potensial untuk dilirik. Mengingat gaya hidup praktis dan modern telah menjadi kebutuhan. Namun demikian, yang jadi pertanyaan besar adalah, jika memang unit-unit apartemen tersebut terserap pasar, yang ditengarai didominasi oleh pembeli bermotif investasi, pertanyaan besarnya adalah siapa penyewa apartemen tersebut? jika Anda mengharapkan imbal hasil dari investasi apartemen, butuh waktu cukup lama untuk terwujud. Jangankan imbal hasil sewa, pengembalian investasi pun perlu waktu tertentu. Sebab, di sini lain, pasok landed housing di kota ini masih sangat banyak. Mereka berasal dari Ciputra Group, Cowell Development dan belum lagi township development Grand City, yang akan dimulai Sinarmas Land pada 2013 mendatang.

 

Kisaran perumahan tersebut, kecuali Citra Bukit Indah, adalah Rp400 juta-1 miliar. Inilah pesaing serius dari unit-unit apartemen itu. Apakah Golden Apartment @ CBD Balikpapan akan menuai sukses? Jawaban yang jujur ada pada waktu yang terus bergulir.

 

 

 

 

 

AD Premier, Pilihan Rasional Dengan Pendekatan Personal

AD premier bird eye view

 

Nama PT Puriampera Intipratama  (PURI) mungkin terdengar asing di telinga. Namun, jika disodorkan Achmad Djawas sebagai identitas personal, market tertentu di kawasan selatan Jakarta, pasti mengakrabinya. Ya, Achmad Djawas merupakan pebisnis properti lawas yang mewarnai daerah-daerah seperti Bangka, Kemang dan Ampera dengan permukiman elit berkelas sejak 50 tahun silam. Dialah yang meretas reputasi PURI hingga eksistensinya kini.

 

Seiring perjalanan panjangnya, PURI memiliki  10 portofolio properti (perumahan dan pergudangan).  Ada pun keunikan dari kesepuluh portofolio tadi adalah pada development concept dan desainnya. Perumahan yang dikhususkan bagi para ekspatriat tersebut berkonsep compound community.   Konsep ini memungkinkan perusahaan asing untuk dapat menyewa rumah dengan jumlah yang banyak bagi para karyawannya. Sementara pergudangan, diuntungkan oleh lokasi yang strategis dengan konsep design and built menyesuaikan dengan kebutuhan penyewa.

 

Tak puas dengan portofolio eksisting, PURI  tahun ini menggebrak dengan commercial high rise project perdana bertajuk AD Premier. Pelabelan AD di depan Premier itu sendiri merupakan dedikasi generasi kedua PURI terhadap jasa dan rintisan Achmad Djawas di sektor properti.

 

AD Premier dirancang oleh Andra Matin. Seorang arsitek handal yang popular dengan independensinya mempertahankan idealisme dan ‘ego’nya. Dia pula yang mendesain Harris Nusa Dua Bali milik Hitakara Development.

 

Gedung perkantoran yang kelak beroperasi pada kuartal kedua 2014 ini menempati area seluas 6.000 m2 di kawasan bisnis baru, koridor Simatupang, Jakarta Selatan. Jika dilihat sekilas, desain arsitekturalnya yang boxy memang sangat bersahaja untuk tidak dikatakan biasa. Namun, jika dikupas lebih jauh, AD Premier ini lekat dengan nafas alami. Minim penggunaan kenyamanan artifisial. Pendek kata ia berupaya mempertemukan kebutuhan ruang usaha bagi para pebisnis dan profesional dengan keharusan melestarikan lingkungan.

 

Oleh karena itu, baik lobi, selasar, maupun ruangan-ruangan antarlaintainya dirancang dapat mereduksi dampak negatif terhadap lingkungan. Fasad gedungnya cukup unik yang berfungsi sebagai penahan panas matahari, yang pada gilirannya dapat mengurangi penggunaan lampu, AC, dan konsumsi listrik secara umum.  Bentuk luar gedung yang memiliki kulit yang tidak berulang dan memiliki ketinggian potongan yang berbeda-beda membuat gedung ini jauh dari kesan membosankan. Karya arsitektur yang enak dilihat dan dinikmati.

 

Untuk merealisasikan idealism dan kepentingan komersial, PURI harus merogoh kocek sebesar Rp200 miliar. Menurut Direktur PT Puriampera Intipratama, Dhanial Achmad Djawas, pihaknya sama sekali tidak menggunakan dana di luar dari kemampuan ekuitas perusahaan. “Sampai sejauh ini, kami hanya menggunakan dana internal yang sudah dialokasikan sejak lama,” ujar Dhanial yang karib disapa Donny.

 

AD Premier merupakan ruang perkantoran yang ditawarkan secara sewa murni dengan rate Rp150.000/m2/bulan. Untuk koridor Simatupang, gedung yang disewakan memang bisa dihitung dengan jari. Kompetisi berasal hanya dari Talavera eksisting dan Talavera Suites serta beberapa gedung yang dirancang hybrid sewa dan jual dalam radius koridor Simatupang seksi 2. Sementara koridor Simatupang seksi 3 diramaikan oleh South Quarter, Wisma Pondok Indah 1-3, serta Metropolitan Tower.

 

Namun demikian, kans AD Premier yang mengambil posisi market pada angka di bawah Rp200.000 m2, merupakan pilihan yang tidak terlalu berisiko. PURI mempertaruhkan reputasi dan komitmennya dengan kualitas dan kelengkapan fasilitas gedung, keamanan dan juga kemudahan aksesibilitas. Dus, segmen pasar yang dibidik adalah  penyewa small to medium atau single tenant yang mempunyai apresiasi terhadap building and landscape concept AD Premier. Segmen ini meski relatif tidak terlalu besar, namun terus bermunculan seiring dengan pertumbuhan positif ekonomi makro Nasional. Profil penyewa tersebut antara lain  oil & gas services, pharmaceutical, consumer goods, dan perbankan.

 

Wajar, bila belum ada prakomitmen karena, “Target kami adalah corporate client untuk sewa bukan strata title yang dapat mengeluarkan prakomitmen dalam tahap desain (gambar). Karena pada umumnya corporate client yang akan menyewa, akan menunggu bangunan gedung mulai terbentuk dengan kemajuan konstruksi sesuai target sebelum menyepakati pra komitmen,” buka Donny.

 

Kendati belum dilansir secara resmi, perkantoran setinggi 19 lantai ini  telah menerima beberapa request for information (RFI) dan letter of interest (LOI) dari beberapa perusahaan. Sehingga Donny berani menargetkan target revenue setahun pasca beroperasinya gedung ini yakni sekitar Rp40 miliar.

 

Ke depannya, AD Premier ini akan diintegrasikan dengan AD Studio di sebelahnya dengan connecting access dan sidewalks yang nyaman serta SPBU yang kelak akan disulap menjadi bangunan gedung komersial. Mengenai future development AD Premier, Donny memaparkan SPBU milik PURI tersebut akan secepatnya dialihfungsikan. “Kami masih mencari opsi terbaik apakah akan dibangun menjadi commercial apartment, atau justru AD Premier Integrated Office Complex. Karena kondisi bisnis dan industri properti sekarang sangat dinamis. Memberikan kemungkinan pada kami untuk mengembangkan gagasan yang berbeda,” urai Donny.

 

 

Eden Hotel Benoa, Hadir Tanpa Jaminan Sewa

Jumlah kondominium hotel (kondotel) di Bali terus bertambah. Para pengembang masih terpikat dengan pesona Pula Dewata dan terus membangun jenis properti ini. Seperti yang dilakukan Twenty One Development Group, pengembang asal Surabaya, Jawa Timur.  Setelah sukses dengan proyek perdana, Eden Hotel Kuta,  mereka membangun lagi kondotel  di kawasan Tanjung Benoa, Bali.

 

Eden Hotel Benoa dibangun di atas lahan seluas  1 hektar dengan luas bangunan 20 ribu m2 yang  menelan investasi sebesar Rp500 miliar. “Kami melihat sebagai destinasi wisata dunia, Bali menjadi pasar potensial untuk mengembangkan proyek properti seperti kondotel. Dan kami yakin proyek terbaru ini akan sukses seperti yang pertama,” ujar Roy Sindhunirmala, CEO Twenty One Development Group.

 

Diferensiasi yang ditawarkan, antara lain lokasinya berada di kawasan Tanjung Benoa yang dikenal dengan water sport-nya. “Eden Hotel Benoa merupakan kondotel pertama yang memiliki private beach. Tebal pasir putih di pantai ini hingga 100 meter. Ini menjadi kelebihan utama. Jangan lupa properti bagus yang berlokasi di bibir pantai di Bali itu sangat sulit. Ini adalah produk premium kami,” klaim Roy.

Kawasan Tanjung Benoa, kata Direktur Twenty One Development Group Stephanus Setyabudi, akan semakin mudah dicapai dengan adanya jalan tol yang menghubungkan Nusa Dua-Bandara Ngurah Rai–Benoa. “Dukungan infrastruktur jalan tol akan menjadi keuntungan bagi kawasan Tanjung Benoa dan Eden Hotel Benoa. Karena dengan jalan tol tersebut, aksesnya akan lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Faktor infrastruktur selama ini menjadi pendorong utama keberhasilan sebuah produk properti, “ papar Stephanus seraya mengatakan pengembangan tol tersebut rencananya selesai pertengahan tahun depan, yaitu menjelang APEC 2013.

Eden Hotel Benoa memiliki 207 unit kamar. Namun tidak semuanya dijual, hanya 100 unit saja, sisanya akan dikelola sendiri oleh Twenty One Development Group. Sebagai operator ditunjuk Tauzia Hotel Management sebagai hotel bintang empat.  Ada 4 tipe kamar yang dipasarkan yakni Grand Deluxe, Premiere, Signature dan Grand Suite dengan ukuran mulai dari 35 m2 hingga  70 m2. Harganya dibanderol berkisar Rp2 miliar-Rp5 miliar per unit.

“Kami memberikan status kepemilikan strate title hak milik (freehold) dan tidak memberikan jaminan sewa (rental guarantee) karena kami yakin para investor percaya dengan reputasi  dan proyek ini akan memberikan keuntungan,” ujar Roy seraya memberikan estimasi return of investment (ROI)kondotel ini diperkirakan mencapai 19% per tahun. Dari 100 unit kamar yang ditawarkan sebanyak 50% sudah terjual.

Presiden Direktur Tauzia Hotel Management Marc Steinmeyer mengatakan, pihaknya telah berpengalaman menjalankan bisnis operator hotel dan berhasil menjaga tingkat okupansi  minimal 80%.  Pembangunan fisik Eden Hotel Benoa yang mengusung konsep natural &  modern minimalis ini akan dimulai pada Maret 2013, diharapkan selesai pada medio 2015, dan sekitar akhir 2015 akan mulai beroperasi.

Bisa jadi keyakinan Roy dan Marc terwujud. Dengan catatan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali terus meningkat. Jika tidak,  kondotel yang dibangun  Twenty One Development Group pasti akan kena imbasnya karena jumlah properti jenis ini  di Bali memang sudah banyak. Menurut catatan lembaga riset dan konsultan properti PT Wilson Propertindo (Knight Frank) saat ini pasokan mencapai 2.713 unit yang berasal dari 21 proyek yang telah ada dan akan bertambah sebanyak 1.700 unit lagi hingga 2013.

Menurut Senior Associate Director Advisory and Investment Knight Frank Indonesia Fakky Ismail Hidayat, pasokan kondotel secara dominan dilakukan di wilayah Kuta yakni mencapai 68,4%, disusul Nusa Dua (16,3%), Uluwatu (13,3%) dan lainnya 2%. Sementara tren kunjungan wisatawan ke Bali tiap tahun meningkat sekitar 9%. “Bertumbuhnya ekonomi Indonesia akan makin mendorong jumlah wisatawan ke Bali. Dan tingkat penyerapan kondotel akan tetap tinggi seiring bertambahnya wisatawan, ” kata Fakky.

 

 

 

 

 

 

 

By: Yuniar S

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.